Kondisi malam minggu 15 Oktober 2011 yang penuh hiruk pikuk muda mudi dan seabreknya acara menarik untuk dinikmati membuat penasaran dan terusik rasa ingin tahu untuk menyusuri sekitar kampus setidaknya dari pada sendirian di kamar. Malioboro pasti macet, apalagi akan digelar acara pernikahan putri Raja Sri Sultan HB X kelima yang akan dihelat mulai minggu hingga puncak acaranya adalah hari selasa 18 Oktober 2011. Kesibukan mulai terasa ketika jumat sore sudah mulai dilakukan gladi bersih serangkaian prosesi pernikahan putri keraton jogja tersebut. Itu pun hanya lewat gambar di surat kabar jogja berikut dengan beritanya sehingga saya bisa sedikit yakin akan kondisi tersebut. Rasanya enggan bergerak ingin ikut menikmati pesta rakyat dan budaya tersebut, apalagi jika sendirian seperti orang hilang tak tentu arah. Belum lagi acara Opera Van Java yang digelar di Candi Prambanan menambah sederetan keramaian masyarakat yang menginginkan hiburan malam minggu yang menikmati akhir pekan. Jogja terasa meriah tak terhindarkan kemacetan di mulai dari Janti hingga lokasi pentas OVJ di Prambanan, sesuai yang didapat dari koran juga banyak yang kecewa karena sudah susah payah untuk mencapai prambanan tetapi tetap tidak dapat masuk ke lokasi pentas karena terlalu banyaknya penonton yang membanjiri lokasi pentas OVJ yang akhirnya harus puas dengan menonton via televisi di pos polisi. Tragis juga ya.
Lokasi pertama yang jadi sasaran adalah gedung fakultas teknik UGM sembari berinternet ria rasanya asyik menghabiskan sore hari. Tempatnya memang cocok untuk berkumpul dan berdiskusi di pilar-pilarnya pun disediakan sejumlah power listrik atau stop kontak yang berjajar dilengkapi dengan meja-meja untuk yang ingin duduk dan lesehan untuk yang menghendaki santai duduk dilantai. Beberapa meja sudah terisi penuh oleh mahasiswa yang keliahatannya sibuk menggali informasi dengan asyiknya berbincang dengan laptop masing-masing. Angin berhembus cukup kuat sehingga buat saya terasa nyaman jika menggunakan jaket dan tutup kepala sampai dengan telinga khas pendaki gunung ditemani dengan sebotol air mineral. Seandainya saja ada teman untuk berbincang dan sebungkus camilan. Tidak terasa waktu beranjak semakin gelap dan lampu-lampu sudah mulai dinyalakan oleh Bapak Keamanan. Maghrib pun menjelang tanpa panggilan adzan dari Masjid Teknik, entah lupa atau karena malam minggu sehingga para pengurusnya atau yang bertindak sebagai muadzin pulang kampung atau malahan sibuk bersiap-siap menyambut malam minggu. Setelah dirasa cukup merasakan susana fakultas teknik rasanya menarik jika berlanjut ke Masjid Kampus.
Suasana gelap memasuki gerbang masjid kampus dari pintu barat adalah kesan pertama yang tertangkap indera penglihatan. Penerangan hanya terasa cukup untuk Bapak Petugas penjaga gerbang sembari memberikan tanda nomor untuk parkir kendaraan roda duaku. Perlahan melihat suasana di sekitar masjid sejauh mata memandang sangat disayangkan sekali, masjid yang seharusnya ramai dan meriah terasa gelap, singup, hanya nampak beberapa orang yang sedang duduk diteras entah menunggu apa. Jauh dari bayangan yang terlintas di benak dan pikirku, Masjid yang seharusnya menjadi pusat kegiatan dan berkumpulnya mahasiswa ternyata tidak ditunjang dengan fasilitas yang mendukung terasa seperti kuburan. Memang dulu ditempat berdirinya masjid kampus adalah kuburan cina. Jangan salahkan jika ketika sholat Isya digelar hanya satu shaf saja tidak penuh terisi walaupun dengan sound system yang menggelegar dahsyat menyusuri setiap sudut masjid dan kumandang adzan yang membahana membelah langit malam minggu. Rasanya tidak puas hati ingin merubah ini semua. Seharusnya tidak boleh kalah terang dengan indomart atau alfamart, disetiap sudut disediakan power listrik atau stop kontak tempat mengaktifkan laptop para mahasiswa yang haus informasi jika perlu masjid memiliki hotspot sendiri. Untuk apa bangunan megah menjulang megah terlihat tapi sepi seperti kuburan. Untuk apa dibangun selasar yang berkeliling dan taman yang terhias dengan pohon palem jikalau tidak terlihat penerangan yang cukup. Sungguh amat sangat disayangkan sekali. Untuk apa pendapatan kotak amal yang besar jika hanya disimpan tidak digunakan untuk memakmurkan masjid. Setidaknya jika di masjid penuh dengan mahasiswa maka mereka akan selalu ingat ketika waktu sholat, itulah kelebihannya dan jauh dari sikap yang tidak tercela karena mereka ingat bahwa sedang berada di masjid. Jika perlu pengurus masjid membuka kantin kecil yang menjual jajanan murah entah gorengan atau apapun yang bisa menjadi teman untuk berlama-lama orang betah di masjid. Semua itu pendapat pribadi yang merasa kurang puas dengan suasana masjid yang demekian sepi dan gelap.
Sudah ... terima kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar